Renungan sang Bunda

Kisah ini merupakan kisah seorang ibu yang mempunyai anak,
dan diambil dari sudut pandang sang Ibu…

Saya (sang ibu) menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat.
“Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya.
Orang tersebut berkata, “Maafkan saya juga, saya tidak melihat Anda.”
Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan.
Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita
memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itu juga, saat saya (sang ibu) tengah memasak makan malam,
anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya.
Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur.
Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.
Ketika saya berbaring di tempat tidur, Tuhan seakan-akan mengingatkan saya,
“Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kamu kenal, ketika
kesopanan kamu gunakan,
tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang.
Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga
dekat pintu.” “Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu,
merah muda, kuning dan biru.
Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.” Seketika saya merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.

Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya,
“Bangun, nak, bangun,” kataku.
“Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?”
Ia tersenyum, ” Aku menemukannya jatuh dari pohon”
“Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.
Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.”
Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu.
Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi.”
Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.”
Aku pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar
menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”

Apakah kita menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita
dalam hitungan hari…

Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.
Mari kita renungkan, apakah kita melibatkan diri lebih dalam
kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri?
Jika iya, sungguh suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana…
Begitu juga dengan teman kita, bila kita sudah merasa akrab dengan teman, kita bertindak tanpa berfikir, “Apakah yang akan kita katakan akan menyakiti hatinya?”, “Apakah dia bahagia berteman denganku?”.
Sering kali kita melupakan prasaan orang lain hanya karena kita merasa sudah dekat dengannya…
Mulai sekarang apakah kita masih akan berbuat seperti itu??

Jadi apakah kita telah memahami apa tujuan cerita di atas?
Apakah kita tahu apa arti kata KELUARGA?
Dalam bahasa Inggris,
KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou.

Kisah ini hanya untuk mengingatkan kita bersama…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: